Pendahuluan
Hari ini, salah satu murid
saya kelas 1, tidak sengaja menumpahkan bekalnya. Kelas langsung heboh. Kuah
sayur bayam dan ayam goreng berhamburan dibawah meja dan kursi. Saya berhenti
sejenak dari mengemas bahan ajar. Lalu
bergegas mengelap meja, memunguti nasi yang bercecer dan mengepel lantai.
Tapi anehnya, saya
tidak mendengus kesal, tidak marah.
Sambil melempar senyum,
sengaja menyapa hangat murid tersebut.
“Ga’
pa pa sudah ibu bersihkan! Apakah Shanum bawa uang jajan?”
Sekedar memastikan ada
ganti untuk sarapannya pagi itu.
Dari kejadian tersebut,
saya menyadari bahwa, sudah membuat sebuah pencapaian sebagai seorang guru.
Merespon chaos dengan tetap tenang. Mengedepankan
sebuah pertolongan, bukan omelan, bukan tatapan penuh kekesalan atau pun
keluhan.
Saya tidak paham kapan
pastinya rasa tenang itu mulai muncul. Barangkali, sejak mengajar kelas 1. Anak
di masa transisi PAUD ke bangku sekolah dasar, mereka sedang di masa tidak
mudah. Mereka memerlukan rasa aman, rasa diterima, rasa didukung. Saya sedang
belajar memberikannya.
Menyalakan cahaya di
ruang kelas berarti menghadirkan rasa aman dan nyaman sehingga mereka senang
datang ke sekolah dan percaya diri menjadi murid sekolah dasar.
Mereka datang dari
beragam latar belakang. Ada yang datang dengan percaya diri, ada enggan
berpisah dengan ibu, ada pula yang datang dengan rasa cemas. Di ruang kelas
inilah, semua anak dirangkul untuk bisa belajar mengenal aturan, belajar fokus
dalam waktu lama, mandiri serta mampu belajar mengelola emosinya yang tentunya
di bangku PAUD belum mereka dapatkan.
Membersamai kelas 1
selama tiga tahun ternyata mengubah diri saya sedikit demi sedikit, pelan terus
belajar bahwa pembelajaran bermakna harus dimulai dari hadirkan rasa nyaman dan
aman di hati peserta didik.
Inilah kemudian menjadi
cerita praktik baik pembelajaran mendalam saya, yang berjudul “Menyalakan Ruang
Kelas: Sebuah Refleksi Pembelajaran Mendalam.”
Pembahasan
Menyalakan cahaya di ruang
kelas berarti bagaimana guru membuat proses belajar terasa hidup dan penuh
energi. Guru yang baik harus memiliki keterampilan tersebut sehingga murid siap
menerima pelajaran.
Saya juga sedang belajar, dimana mengajar kelas 1,
setiap tahunnya memiliki tantangan yang berbeda-beda. Melalui konten yang
dipublikasikan oleh akun Instagram @ ditjen.gtk.kemendikbud. “Suasana kelas
dibuat aman dan ramah agar rasa ingin tahu anak-anak tumbuh secara alami.”
Saya percaya meskipun
tantangan yang berbeda-beda, solusinya hanya satu yaitu ciptakan dulu rasa aman
dan nyaman di hati murid. Sejak awal masuk sekolah tanggal 13 Juli 2026 lalu hingga
satu minggu kemudian, yang saya lakukan adalah bagaimana memahami karakter
peserta didik, mengamati kebutuhan mereka dan membangun kedekatan secara
emosional.
“Untuk memahami orang lain dengan baik, kita harus belajar mendengarkan dengan penuh perhatian, mengamati dengan objektif, dan melihat dunia melalui perspektif mereka.”
(Kinara, 2026, hlm.152).
Mahfudz (2011) menambahkan,”
kenalilah kehidupan siswa. Masuklah ke dalam kehidupan mereka dan mengajarlah
dengan berbagai gaya yang sangat mereka sukai” (hlm. 42).
Saya berusaha datang
lebih awal, menyambut peserta didik di gerbang sekolah, menyapa orang tua
mereka. Menghafal nama mereka. Memberikan senyum tulus. Mendengarkan mereka
bercerita. Merapikan jilbab atau topi mereka. Menepuk pundak sebagai dukungan
non verbal agar anak semakin percaya diri. Serta, segera memberikan bantuan
ketika diperlukan.
Saya percaya bahwa
murid akan mudah menerima pelajaran ketika kehadirannya diperhatikan dan
diterima. Murid akan mengingat bagaimana cara guru memperlakukannya di sekolah.
Bahkan ingatan itu lebih berkesan dari pada materi ajar itu sendiri.
Bagaimana Penerapan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk Kelas 1?
Saya berusaha
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Meskipun dari hasil pengamatan
selama 1 minggu terakhir, murid yang saya ajar yaitu kelas 1B (28 murid), memiliki
kemampuan yang beragam. Ada 2 orang yang baru bisa pegang pensil. Ada 12 orang
yang sudah bisa menulis nama sendiri. Ada 7 murid yang belum tahu huruf abjad.
Ada 7 orang yang sudah lancar membaca.
Dari titik awal yang
berbeda-beda tersebut saya memulai pembelajaran dengan pendekatan deep learning, dengan mengambil langkah
awal “buka hati murid” ciptakan rasa aman. Sehingga sekecil apapun pencapaian
anak, mereka merasa dihargai.
Seperti modul ajar kurikulum
merdeka pada umumnya, saya memulai kegiatan awal pelajaran dengan memberi salam,
mengucapkan selamat datang kepada murid, menyapa hangat mereka dan mengkondisikan
kelas agar siap belajar dengan nyanyian, “Selamat pagi muridku apa kabar?” lalu
berdoa bersama dipimpin salah satu murid dan melakukan absensi.
Saya memakai pendekatan
pembelajaran deep learning, yaitu
sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada konsep dan kompetensi yang
mendalam. Pembelajaran mendalam mengajak peserta didik untuk tidak hanya tahu
tentang apa, tetapi lebih bisa menjawab mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi
karena bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari.
Saya berusaha
menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari yang berada di sekitar
murid. Seperti kemarin, kelas 1B belajar membaca dan menulis suku kata ba-, bi-, bu-, be-, bo pembelajaran
berfokus dan penuh kesadaran (mindfull
learning). Saya menunjukan gambar benda suku kata tersebut, seperti gambar
bola, buku, bumi, gambar biru.
Saya juga menyadari
bahwa kelas 1 belum bisa bertahan duduk lama fokus dalam belajar, untuk itu
saya berikan tepuk “suku kata” agar fisik anak bergerak dan tidak bosan. Serta
paham terhadap suku kata yang dipelajari.
Diselingi lagu- lagu
anak yang berkaitan dengan prinsip pembelajaran mendalam yaitu menggembirakan (Joyfull learning).
Ini
huruf apa? Ini huruf apa?
Huruf
b, huruf a
Bagaimana
bunyinya?
ba
ba ba ba ba ba
dan
seterusnya.
Kemudian, saya mengajak
anak-anak mengamati benda di dalam kelas, kira-kira benda apa lagi yang
memiliki suku kata yang sedang kami pelajari. Meminta mereka menyebutkannya
lalu mengapresiasi karena berani menjawab. Ini menunjukan pembelajaran bermakna
(meaningfull learning).
Untuk latihan menulis,
saya meminta menulis suku kata yang tepat berdasarkan gambar. Seperti: ba ju,
bu ku, bo la, bi ru, dan be bek.
Kegiatan bergerak,
bernyanyi, ice breaking tidak hanya
menghilangkan rasa jenuh, tetapi agar kelas tetap menyala penuh energi dan
paham materi secara mudah dan dalam.
Bagaimana hasil refleksi pembelajaran yang sudah dilakukan?
Mahfudz (2011)
menyampaikan bahwa dari hasil penelitian Lewis dan Schaos, menunjukan bahwa
suasana lingkungan belajar yang kondusif akan mempunyai dampak yang positif,
karena harapan dan kemampuan akademik siswa meningkat, motivasi siswa untuk
belajar menjadi lebih besar, siswa lebih menyenangi sekolah, tingkat absensi
siswa lebih rendah, kemampuan sosial siswa menjadi lebih baik, masalah
kenakalan siswa jauh berkurang, dan siswa mempunyai sikap yang terbuka. (hlm.
126).
Guru dan suasana kelas
yang ramah, penuh cinta dan kasih sayang akan mendorong murid percaya diri dan berprestasi.
Dari hasil refleksi pembelajaran, beberapa anak yang sangat pemalu dan enggan
mengeluarkan suara ketika diminta membaca suku kata, sudah mulai berani
membaca. Beberapa anak yang menulis suku kata rapat atau tidak ada spasi, kini
mulai rapi dengan bantuan jari telunjuk mereka yang diletakkan dibuku. Beberapa
anak berani menyanyikan lagu suku kata ba-,
bi-, bu-, be-, bo- dengan suara yang lantang. Beberapa anak mulai tahu
aturan dalam kelas, bisa duduk tertib dan diam ketika ibu guru atau teman berbicara.
Tentunya dari refleksi
pembelajaran, kelas saya masih banyak kekurangan, seperti saya kesulitan memutuskan
apakah membantu murid yang butuh bantuan mengencangkan tali pinggang, merespon
murid yang sedang sakit perut, mencari penghapus yang hilang, melerai anak yang
berebut pensil secara bersamaan, padahal posisinya saya sedang didepan kelas
memberi materi ajar.
“Tetap
tenang! Tenang! Tidak panik!”
Mari terus berjuang
untuk selalu hadir di hati murid. Terkadang satu senyuman, satu jawaban, “nanti ibu guru bantu ya!” bisa membantu
seorang anak tenang, dan merasa masalah mereka pasti akan teratasi oleh guru.
Motivasi tidak selalu
perkataan, “ayo belajar yang rajin!” terkadang cukup kehadiran ibu guru yang antusias
membuat murid semangat ke sekolah.
Lalu, menjadi ibu guru
apakah harus menjadi manusia yang sempurna, selalu tersenyum, ceria padahal
beban di pundak sama beratnya dengan yang lain?
Setiap orang ada
persoalannya masing-masing termasuk kita sebagai guru. Meskipun tidak tidur
hampir semalaman, paginya, kita harus kuat dan teriak, “Pagi! Pagi! Luar biasa!”
Ramadhan (2010)
menyatakan, “Simpanlah keletihan dan rasa gelisah Anda secara tepat. Tempat
penyimpanan itu banyak sekali, namun manusia yang sukses adalah orang yang
dapat menyimpannya dengan baik. Ia membuat penyimpanan khusus bagi setiap
kesulitan, sehingga dapat duduk tenang dengan suasana hati yang baik.” (hlm.
135)
Luangkan waktu untuk
diri sendiri dalam mesnyukuri betapa profesi guru yang kita jalani sekarang
adalah cita-cita yang dahulu kita doakan. Sekarang, setelah menjalaninya semoga
saja tidak terganggu dengan masalah-masalah pribadi dan tetaplah menjadi
pribadi yang bisa menyembunyikan kelelahan dan keletihan hidup.
Saya semakin yakin,
menyalakan cahaya di ruang kelas, tidak hanya perlu bangunan yang megah, media
ajar yang canggih dan mahal. Tetapi dari hati yang tulus, senyuman, sapaan
hangat, respon dan perkataan baik akan hadir kelas yang hidup dan menghasilkan
karakter baik dan prestasi yang gemilang.
Penutup
Alhamdulillah, saya
mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt. Atas izin-Nya saya
memiliki kesempatan bisa mengajar kelas 1 di SDN 81/II Muara Bungo, Jambi.
Saya sangat menikmati
menjadi guru kelas 1. Kelas yang luar biasa. Setiap tahunnya saya banyak
belajar dari kepolosan, kelucuan, dan pribadi murid-murid yang sedang di fase
transisi.
Saya juga belajar untuk
lebih sabar, lebih soft spoken, bisa
mengenali dan mengendalikan emosi.
Saya ingin memiliki
pribadi seorang guru yang tidak hanya mengajarkan bagaimana mereka bisa
menulis, membaca dan berhitung dengan benar, tetapi juga jadi bagian dalam
proses mereka belajar tumbuh percaya diri, mandiri dan berkarakter.
Melalui pendekatan
pembelajaran mendalam atau deep learning,
senyuman, sapaan, respon hangat akan membuat anak kelas 1 sekolah dasar merasa
nyaman di kelas yang baru. Mudah beradaptasi, belajar dan tumbuh bersama.
Menyalakan ruang kelas,
berarti membuat murid-murid bersinar sesuai potensinya masing-masing, dengan
kecepatannya masing-masing serta dengan cara belajarnya masing-masing. Sebagai
guru kelas 1 semoga saya dimudahkan dalam memberikan yang terbaik sehingga
mereka menjadi tunas bangsa yang bersinar terang dengan kesuksesan di masa yang
akan datang. Aamiin.
#Lombaartikelguru
#ArtikelprotasGTK
#Gurumenulis


%20untuk%20Kelas%201.jpeg)










Posting Komentar
Posting Komentar