Laporkan Penyalahgunaan

Bagaimana Shalat Bisa Mengubah Lelah Ibu Menjadi Happy?

Posting Komentar

 

Bagaimana Shalat Bisa Mengubah Lelah Ibu Menjadi Happy?

Pernah gak sih merasa sangat capek? Sangat lelah, baik secara emosi dan fisik. Melihat rumah sangat berantakan, belum memasak, hari mulai malam, anak anak saling bertengkar. Huhuhu. Rasa-rasanya dalam pikiran saling berjejalan. Ingin teriak. Ingin menangis.

Tapi, ternyata di saat seperti real ilustrasi diatas hal yang paling penting adalah ibu tetap tenang.

“Gimana mau tenang coba? Pikiran sedang kemerungsung. Ditambah kegaduhan anak-anak.”

Bahkan tak jarang anak-anak jadi lampiasan emosi ibu. Betul tidak? Ketika malam, memandangi wajah anak-anak ada timbul penyesalan, esok berlaku hal yang sama lagi. Hasilnya, anak-anak pun jadi mudah tantrum. Mudah marah. Mewarisi sikap pemarah ibunya.

Contohnya, aku memiliki catatan pengalaman, saat meminta Hiru (5 tahun) untuk menyapu teras. Dikerjakan sih. Tapi diluar ekspektasiku, sambil menyapu, ia mengomel seperti apa yang pernah aku lakukan, “ ini sandal siapa? Kalau tidak disusun kubuang nih!” (Sambil menyapu sandal-sandal). Dia bener-bener copy paste apa yang kulakukan. Selama ini, ia mengamati, merekam dan sekarang menirunya.

Sebuah legacy (warisan) buruk yang membentuk karakter anak. Dan takutnya menjadi dosa yang terus mengalir. Makanya aku sekarang belajar untuk lebih hati-hati dalam bersikap, tidak berkata-kata kasar.

Ketika mager banget untuk beraktivitas, aku paksakan diri dan mengingat bahwa “Aku sedang memperlihatkan sikap yang akan diwarisi anak-anak.”

“Aku sedang memperlihatkan sikap yang akan diwarisi anak-anak.”

Coba Shalat Awal Waktu

Sebuah nasehat parenting menyebutkan, “shalatlah awal waktu, kamu akan bahagia, kamu akan dipermudah.” Ternyata bisa shalat awal waktu itu sebuah nikmat yang bikin hati bahagia banget.

Dulunya, aku suka berdalih, “nanti saja shalat Ashar, setelah mandi, setelah beres-beres, masak dll. Jatuhnya shalat jadi sangat telat. Sehingga melakukan segala aktivitas dengan hati tak karuan. (Ini situasinya, aku pulang kerja dari luar rumah dan harus menyelesaikan pekerjaan rumah juga serta di malam hari aktif sebagai penulis blog).

Alhamdulillah, setelah merubah pengerjaan waktu shalat di awal waktu. Rasanya hati menjadi lebih tenang. Selelah apapun. Mengerjakan pekerjaan rumah juga dengan bahagia. Anak-anak jadi mudah diatur. Bertengkar ya bertengkar, biasa saja. Yang luar biasa aku bisa respon dengan tidak marah-marah pula.

Shalat Awal Waktu Sulit, bukan Berarti tidak bisa

I feel you, Mom! Sulit banget shalat di awal waktu. Anak menangis. Minta ini dan itu. Sebenarnya, polanya adalah anak mengamati kebiasaan ibunya. Ketika anak ditinggal shalat, dan ia menangis. Ada dua pilihan yang bisa ibu lakukan, membiarkan saja dan melanjutkan shalat atau berhenti dan menenangkan si kecil.

Coba ibu biarkan saja dan lanjutkan shalatnya (Dengan catatan posisi si kecil aman). Untuk selanjutnya insya allah, si kecil tidak menangis lagi. Karena ia sudah mengamati polanya.

Kunci Ketenangan

Ketenangan anak dan ketenangan ibu bermula dari mengerjakan shalat tepat waktu. Nikmatnya, walau lelah fisik, tapi di hati tenang. Anak anak pun ikut tenang. Allah lah yang mendatangkan ketenangan, masa masa sukar ibu terasa nikmat dijalani. masa ruwet pun menjadi bonding time antara ibu dan anak.

Bukan berapa banyak pekerjaan yang dilakukan ibu yang membuat lelah. Namun, kekosongan jiwa dari mengingat Allahlah yang menjadikan berat. Yuk, jadikan shalat bisa mengubah lelah ibu menjadi happy selalu. 

 

 

Linda Puspita
Blogger dan Guru Honorer yang selalu beruntung saat mulai menulis. Menerima kerja sama, silahkan singgah di brilianamumtazia@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar